BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

Ibu adalah orang yang telah mengandung, menyusui,dan merawat kita. Sementara seorang ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah bagi keluarga , tetapi juga pelindung, penjga , pendidik dan pengatur arah biduk rumah tangga. Berbakti kepada orang tua hukumnya wajib, bahkan di dalam al-quran permasalahn tersebut telah di ulang sebanyak 16 kali.

 Selain itu, perintah berbakti pada orang tua disejajarkan dengan beriman dan beribadah kepada Allah. Perintah tersebut terdapat dalam surah al-baqarah ayat 83, surah an-nisa ayat 36, surat al-an’am ayat 151, surah al-isra ayat 23, dan surah luqman  ayat 13. Akan tetapi, di dalam al-quran tidak semua perintah berbakti kepada orang tua diiringi dengan perintah beriman kepada Allah. Ada pun salah satu contoh perintah tersebut adalah

ٱلْجُنُبِ وَٱلْجَارِ ٱلْقُرْبَىٰ  ذِى وَٱلْجَارِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْيَتَٰمَىٰ ٱلْقُرْبَىٰ  وَبِذِى إِحْسَٰنًا شَيْـًٔا بِهِۦ تُشْرِكُوا۟ وَلَا ٱللَّهَ وَٱعْبُدُوا۟

فَخُورًا مُخْتَالً كَانَ مَن يُحِبُّ لَا ٱللَّهَ إِنَّ أَيْمَٰنُكُمْ مَلَكَتْ وَمَا ٱلسَّبِيلِ وَٱبْنِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱلصَّاحِبِ

Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Keutamaan berbakti kepada orang tua tidak hanya di jelaskan di dalam al-quran. Akan tetapi juga di jelaskan di dalam hadits nabi. Bahkan di dalam hadits berbakti kepda orang tua lebih di utamakan dari pada berjihad di jalan allah. Adapun redaki haditsnya adalah.

“aku pernah bertanya kepada nabi saw, “amal apakah yang paling di sukai allah  ? beliau menjawab,” shalat pada waktunya, “ aku bertanya lagi ,” lalu apa ?” beliau menjawab ,”berbuat baik kepada orang tua .” aku bertanya lagi.”lalu apa ?”beliau menjawab,”berjihad di jalan Allah” ( muttafaq’Alaih )

sebagian masyarakat menganggap bahwa bahasa arab  dari berbakti kepada orang tua adalah birr al-walidain, padahal di dalam al-quran berbakti kepda orang tua tidak hanya ditunjukkan dengan birr  melainkan juga dengan kata ihsan dan ma’ruf. Secara umum kata birr, ihsan  dan ma’ruf sama-sama bermakna berbuat kebaikan,suatu perbuatan yang bersifat baik. Selain itu ketiga kata tersebut dalam pandangan masyarakat memiliki arti yang sama yaitu bermakna baik. Jadi, jika dilihat secara umum maka nketiga kata tersebut memiliki makna yang sinonim.

KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN

 Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16) Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : 6 Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan). Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

Keempat : Merupakan Sebab keridhoan Allah Sebagaiman hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".

Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim". Keenam : Merupakan Sebab Barokahnya Rizki Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.


 

DAFTAR PUSTAKA

Zulhamdani, “ ibu dalam al-qu’an ( kajian tafsir tematik )” skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,2015 )

Abdul Wahid, meraih jannah dengan berkah ayah, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)

A. Mudjab Mahalli, Kewajiban Timbal Balik Orangtua –Anak, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)

Muhammda Fuad ‘Abdul baqi, Al-Mu’jam Al-Mufhras li Alfaz al-qur’an al-Karim, (beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971) dan Ahmad bin Hasan, Fath al-rahman litalibi al-qur’an, (jakarta: Dar al-Hikmah, 1322)

Imam al-Nawawi, riyad al-salihin, terj. Solihin, (Jakarta Timur: Pustaka al-Kausar, 2015)

Komentar

Postingan populer dari blog ini