PERADABAN BANGSA ARAB SEBELUM KEDATANGAN ISLAM


  1. Keadaan Geografis Jazirah Arab

Jazirah Arab mempunyai luas satu juta mil persegi atau sekitar 1.745.900 km yang mendiaminya mayoritas bangsa Arab. Tanah Arab kadang juga dinamai pulau gundul karena merupakan suatu tanah semenanjung yang kesuburannya agak kurang dan terdapat banyak gunung batu. Ada beberapa sungai yang mendiami wadi dengan aliran yang tidak tetap dan lembah lembah berair di musim hujan.

Sebenarnya Arab bukanlah kepulauan karena dilihat dari semua perbatasannya ada satu sisi yang tidak berbatasan dengan laut. Di Barat, Arab berbatasan dengan Laut Merah dan Gurun Sinai, sebelah Selatan berbatasan Laut India, sebelah Utara berbatasan dengan gurun (padang pasir) Irak dan Syiria dan di bagian Timur berbatasan dengan Teluk Arab (Persia). Jazirah Arab adalah salah satu tempat yang paling kering yang berada di muka bumi ini. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang paling jarang dituruni hujan sehingga suhu di sana pun terasa sangat panas.

Berbicara tentang Arab pra Islam tentunya tidak dapat dipisahkan dari dua kekuasaan yang sangat besar pada waktu itu yaitu Kerajaan Romawi  adalah sebuah kerajaan besar yang terletak di Italia dengan ibukotanya yaitu Roma dan Kerajaan Persia menurut sejarah adalah kerajaan yang berkuasa di Iran.

  1. Keadaan Sosial dan Budaya Bangsa Arab Sebelum Islam Datang

Masyarakat Arab terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu penduduk kota (Hadhary) dan penduduk gurun (Badui). Penduduk kota bertempat tinggal tetap. Mereka telah mengenal tata cara mengelola tanah pertanian dan telah mengenal tata cara perdagangan. Bahkan hubungan perdagangan mereka telah sampai ke luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah memiliki peradaban cukup tinggi. Sementara masyarakat Badui hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka.

dapat disimpulkan keaadaan sosial dan kebudayaan bangsa Arab sebelum islam diantaranya:

1.      Orang-orang Arab sebelum kedatangan Islam adalah orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrikin), yaitu mereka menyembah patung-patung dan menganggap patung-patung itu suci.

2.      Kebiasaan mereka ialah membunuh anak laki-laki mereka karena takut kemiskinan dan kelaparan.

3.      Mereka menguburkan anak-anak perempuan mereka hidup-hidup karena takut malu dan celaan.

4.      Mereka orang-orang yang suka berselisihan, yang suka bertengkar, lantaran sebab-sebab kecil, sebab segolongan dari mereka memerangi akan sesegolongannya

  1. Sistem Politik Bangsa Arab

Kondisi orang Arab sebelum datangnya Islam mereka hidup berkelompok kelompok atau yang biasa disebut dengan kabilah atau suku. Sistem yang berlaku pada waktu itu adalah sitem diktator siapa yang paling kuat maka dialah yang paling berkuasa. Sistemnya mirip dengan apa yang ada di dalam rimba, yang paling kuatlah yang akan berkuasa tanpa memperhatikan rakyat lemah yang ada di bawah.

Intinya kekuasaan politik pada zaman jahiliyyah mengakibatkan yang berada di bawah kekuasaannya hancur dan menjadi tidak tentram, keadaan politik dan ekonomi menjadi tergoncang baik di desa-desa sampai kepada sistem pemerintahannya mereka sendiri.

  1. Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Datangnya Islam

Zaman sebelum datangnya Islam disebut zaman jahiliyah yang memiliki arti zaman kebodohan. Dikatakan jahiliyah bukan berarti karena masyarakat Arab pada waktu itu bodoh tetapi salah satu alasannya karena mereka memiliki moral yang sangat buruk. Masa jahiliyah ini adalah masa dimana bangsa Arab tidak mengenal agama tauhid yang membuat akhlak dan moral mereka menjadi hancur.

Secara garis besar kondisi masyarakat sangat lemah dan buta sehingga kebodohan merajalela mewarnai aspek-aspek kehidupannya membuat manusia seperti binatang yang ada di rimba.

  1. Sistem Kepercayaan Masyarakat Arab Pra Islam

Bangsa Arab yang bermukim di jazirah Arab dikenal sebagai bangsa jahiliyah bukan semata mata karena mereka tidak mempercayai adanya tuhan dan buka juga karena mereka tidak menganut kepercayaan-kepercayaan tertentu. Secara garis besarnya agama yang dianut oleh masyarakat Arab pada waktu itu hanya terbagi menjadi dua yaitu agama samawi yang bersumber dari langit dan agama ardhi yang merupakan agama buatan manusia sendiri atau berasal dari nenek moyang mereka.

Berkaitan dengan agama, mereka memeluk agam Ibrani namun seiring berjalannya waktu mereka banyak yang menyimpang bahkan malah menyembah berhala-berhala dan mereka beranggapan bahwa berhala itulah yang menghubungkan mereka dengan tuhan. Pada saat itu ada tiga buah berhala yang sangat terkenal atau populer yang ditempatkan disuatu tempat tempat tertentu, yaitu:

1.      Manat, mereka menaruhnya di Musyallal tepi Laut Merah dekat Qudaid.

2.      Lata, mereka tempatkan di Tha’if.

3.      Uzza, mereka tempatkan di Wady Nakhlah.

Setelah itu, kemusyrikan semakin bertambah dengan banyaknya berhala berhala kecil yang berada di Hijaz, yaitu agama Yahudi dan agama Nasrani.

  1. Kebudayaan Bangsa Arab Pra Islam

Bangsa Arab memiliki banyak kebudayaan, salah satunya mereka sangat ahli di dalam bidang sastra khususnya syair-syair yang merupakan gambaran langsung dari kehidupan mereka baik dari segi budi pekerti ataupun adat istiadat. Bahasa dan kandungan syair Arab padat, jujur dan lugas akan tetapi memiliki nilai sastra yang sangat tinggi dikarenakan imajinasi dan symbol yang dipakai sangat baik dan mengenai sasaran.

 

DAKWAH RASULULLAH SAW PADA PERIODE MAKKAH

  1. Periode dan Tahapan Dakwah Rasulullah

Masa dakwah Rasulullah menjadi dua periode, yang satu sama lain sangat berbeda, yaitu:

1.      Periode Makkah, berjalan kira-kira selama 13 tahun.

2.      Definisi Periode Madinah, berjalan selama 10 tahun penuh.

Lalu, periode Makkah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1.      Tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun.

2.      Tahapan dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Makkah, yang dimulai sejak tahun ke-4 dari nubuwah hingga akhir tahun ke-10.

3.      Tahapan dakwah di luar Makkah dan penyebarannya, yang dimulai dari tahun ke-10 dari nubuwah hingga hijrah ke Madinah.

  1. Karakteristik Dakwah Rasulullah di Makkah

Adapun karakteristik dakwah Nabi Muhammad di Makkah dapat dibagi dalam beberapa hal yaitu:

1.      Dakwah dalam Bidang Ketuhanan

Bahwa dakwah di Makkah lebih ditekankan pada bidang eskatologis atau ketauhidan. Hal ini berangkat dari keprihatian rasulullah karena melihat keberagamaan bangsa Arab terutama penduduk Makkah yang masih musyrik pada saat itu. Maka kepercayaan masyarakat Makkah akan dikembalikan kepada keyakinan terhadap keesaan Tuhan (ketauhidan), sehingga patung-patung (berhala) yang tersebar di Makkah akan dihilangkan sebagai bentuk penyembahan masyarakat Makkah.

Diantara beberapa ayat tentang ketuhanan diantaranya adalah:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

“ Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan. (Dialah)an Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu terdahulu ( QS. Ad-Dukhan: 8)

2.      Dakwah dalam Bidang Pendidikan

Dakwah dalam bidang pendidikan dilakukan rasulullah sejak dini, yaitu beriringan dengan masuknya Islam para sahabat satu persatu. Disamping dari rumah ke rumah, maka rasul memilih rumah sahabat al-Arqam bin Abi Arqam dijadikan sebagai tempat pertama penyampaian dakwah Islam secara berkelompok. Di tempat inilah dakwah rasulullah dilakukan dengan pendekatan pendidikan.

3.      Dakwah dalam bidang Pembinaan

Sistem pembinaan dalam dakwah yang dilakukan oleh rasulullah adalah dengan sistem kaderisasi dengan membina beberapa sahabat. Kemudian beberapa sahabat tersebut mengembangkan Islam ke penjuru dunia. Hal ini dimulai dari khulafaur rasyidin, kemudian generasi sesudahnya.

Keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh rasulullah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya; adanya konsisten nabi dalam menggunakan etika dakwah serta penggunaan metode keteladanan / uswah hasanah.

  1. Tantangan Dakwah Rasulullah di Makkah

Tantangan yang paling berat adalah menyampaikan dakwah kepada para keluarga terdekat, dia mendapat penolakan dari para keluarga terutama pamannya Abu Lahab dan Abu Jahal, ini juga menjadi beban yang berat baginya karena kedua pamannya ini sampai akhir ayat tidak beriman kepada Allah.

Ancaman pembunuhan yang diterima sebagai upaya konspirasi dari kaum lan tardho untuk menghentikan dakwahnya, penyiksaan yang diterima para sahabat, kaum Muslimin, mengganggunya, ejekan, hinaan, tuduhan-tuduhan palsu yang dilontarkan untuknya, sindiran serta pemboikotan total yang dilakukan oleh orang-orang Musyrik

.

 

Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

  1. Dakwah Nabi Muhammad saw Pada Periode Madinah

Madinah dianggap sebagai kelahiran baru agama Islam setelah ruang dakwah di Mekah terasa sempit bagi kaum muslimin. Allah SWT memilih Madinah sebagai pilot project pembentukan masyarakat Islam pertama. Madinah memang layak dijadikan kawasan percontohan (Wahyu Ilaihi & Harjani Hefni, 2007: 55). Berawal dari respon orang-orang Yastrib yang datang ke Mekah pada bulan haji terhadap seruan Nabi, juga tidak terlepas dari pribadi nabi yang dikenal sebagai orang yang tak pernah berbohong.

Keberhasilan dakwah nabi dapat dilihat pada sikap orang-orang Yastrib di perjanjian Aqabah I dan II, dimana mereka mau mengubah sikap dan perilaku mereka, bahkan bersedia menjadi pelindung nabi.

Pertama: Membangun masjid Waktu Rasulullah saw masuk Madinah, penduduk Madinah yang sudah memeluk Islam (kaum Anshar) banyak yang mengundang serta menawarkan rumah untuk beristrahat. Setelah nabi sampai di tanah milik kedua orang anak yatim bernama Sahal dan Suhail keduanya anak Amr bin Amarah dibawah asuhan Mu‟adz bin „Afra, berhentilah unta yang ditunggangi nabi, kemudian beliau dipersilahkan oleh Abu Ayub Anshari untuk tinggal di rumahnya

Kedua: Menciptakan persaudaraan baru Kaum muslimin yang berhijrah dari Mekah ke Madinah disebut “muhajirin” dan kaum muslimin penduduk Madinah disebut “anshor”. Kaum muslimin Mekah yang berhijrah ke Madinah banyak menderita kemiskinan, karena harta benda dan kekayaan mereka ditinggalkan di Mekah, diwaktu mereka berhijrah ke Madinah melarikan agama dan keyakinan yang mereka anut.

Ketiga: Perjanjian dengan masyarakat Yahudi Madinah. Setelah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dengan anshor, selanjutnya nabi menjalin hubungan antara kaum muslim dengan golongan Yahudi penduduk Madinah. Jalinan hubungan ini terwujud dalam bentuk perjanjian atau undang-undang yang kemudian dikenal sebagai “Piagam Madinah” yang ditulis pada tahun 623 M atau tahun ke-2 H. Di antara dictum perjanjian paling penting adalah sebagai berikut:

1.      Kaum muslimin dan kaum Yahudi hidup secara damai, bebas memeluk dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

2.      Orang-orang Yahudi berkewajiban memikul biaya mereka sendiri, dan kaum muslimin wajib memikul biaya mereka sendiri.

3.      Apabila salah satu pihak diperangi musuh, maka mereka wajib membantu pihak yang diserang.

4.      Di antara mereka saling mengingatkan, dan saling berbuat kebaikan, serta tidak akan saling berbuat kejahatan.

5.      Kaum muslimin dan Yahudi wajib saling menolong dalam melaksanakan kewajiban untuk kepentingan bersama.

6.      Bumi Yastrib menjadi tanah suci karena naskah perjanjian ini

7.      Nabi Muhammad adalah pemimpin umum untuk seluruh penduduk Madinah. Bila terjadi perselisihan di antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, maka penyelesaiannya.

Keempat: Pembangunan pranata sosial dan pemerintahan. Madinah adalah wilayah pertanian, dihuni oleh berbagai klan dan tidak oleh sebuah kesukuan yang tunggal, namun berbeda dengan Mekah, Madinah merupakan perkampungan yang diributkan oleh permusuhan yang sengit dan anarkhis antara kelompok kesukuan yang terpandang –Suku Aws dan Khazraj. Permusuhan yang berkepanjangan mengancam keamanan rakyat kecil dan mendukung timbulnya permasalahan eksistensi Madinah.

  1. Respon Masyarakat Madinah Terhadap Dakwah Nabi Muhammad SAW

Sesudah peristiwa hijrah, penduduk Madinah terdiri atas tiga golongan: kaum muslimin, bangsa Yahudi (Banu Nadhir dan Banu Quraizhah) dan bangsa Arab yang belum menganut agama Islam (A. Syalabi, 2003: 104). Kepada ketiga golongan tersebut, nabi terus berusaha menyebarkan agama Islam. Hal itu dilakukan nabi saw selain karena kewajiban yang harus dilaksanakannya, juga karena ia melihat mayoritas masyarakat Madinah menyambut dengan baik saat beliau dan umat Islam tiba di kota tersebut

Pada hakekatnya dakwah nabi merupakan aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak masyarakat Madinah, dengan menggunakan cara tertentu. Dakwah nabi berusaha mengubah lingkungan Madinah dengan cara meletakkan dasar eksistensi masyarakat Islam, menanamkan nilai-nilai keadilan, persamaan, persatuan, perdamaian, kebaikan, dan keindahan, sebagai inti penggerak perkembangan masyarakat, membebaskan individu dari sistem kehidupan zalim (perbudakan) menuju sistem kemerdekaan, menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyarakat Madinah, dalam rangka mengembang tugas nahi mungkar, dan memberi alternative konsepsi atas kemacetan sistem, dalam rangka melaksanakan amar ma‟ruf, merealisasi sistem budaya yang berakar pada dimensi spiritual yang merupakan dasar ekspresi akidah, meningkatkan kesadaran masyarakat Madinah untuk menegakkan hukum, mengintegrasikan kelompokkelompok kecil (muslim, Yahudi, bangsa Arab non muslim) menjadi suatu kesatuan kekuatan untuk mengamankan Negara Madinah dari serangan luar, merealisasi keadilan dalam bidang ekonomi, dengan mempersaudarakan golongan aghniyaa (anshor) dengan golongan ekonomi lemah (muhajirin) (Didin Hafidhuddin, 1998: 67-68).

 

 

PERKEMBANGAN ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN

  1. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M )

1.      Menjadi Khalifah Pertama

Pertemuan golongan anshar di Saqifah Bani Sa’idah tersebut dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah tokoh terkemuka dari suku khazraj. Golongan anshar berargumen bahwa golongan anshar telah banyak menolonga Nabi dankaum muhajirin dari kejaran dan penindasan orang-orang kafir Quraisy sehingga dari golongan Anshar lah yang berhak sebagai pengganti Nabi. Pada saat kaum muhajirin dating di Saqifah Bani Sa’idah, kaum anshar nyaris bersepakat untuk mengangkan dan membaiat Sa’ad bin Ubadah menjadi khalifah. Kemudian Abu Bakar mengatakan pada golongan anshar bahhwa jabatan khalifah sebaiknya diserahkan kepada kaum muhajirin. Alasan Abu Bakar adalah:

a.       Merekalah yang terlebih dahulu memeluk agama

b.      Islam kaum Muhajirin dengan perjuangan yang berat selama 13 tahun menyertai Nabi.

c.       Membantu Nabi mempertahankan Islam dari gangguan dan penindasan kaum kafir Quraisy di Mekkah.

Dengan usulan Abu Bakar golongan Anshar tidak dapat membantah usulannya. Pada saat yang bersamaan Abu Bakar menunjuk dua orang Muhajirin di sampingnya yang dikenal sangat dekat dengan Nabi, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaidan Bin Jarrah. Abu Bakar mengusulkan agar memilih satu diantara keduanya yntuk menjadi khalifah. Sebelum usulan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah Bin Jarrah justru menolaknyanya dan keduanya justru menunjuk Abu Bakar dan memilihnya. Secara cepat dan tegas Umar mengayungkan tangannya ke tangan Abu Bakar dan mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Lalu yang dilakukan Umar ini segera diikuti oleh Abu Ubaidah. Dan kemudian diikuti kaum anshar untuk membaiat Abu Bakar kecuali  Sa’ad bin Ubaidah. Lalu pada keesokan harinya baiat terhadap Abu Bakar secara umum dilakukan untuk umat muslim di Madinah.

2.      Memberangkatkan Pasukan Usamah bin Zaid ke Kawasan Syam

Sebelum memberangkatkan pasukan tersebut Abu Bakar As-Shiddiq memberikan pesan dan mengingatkan etika perang dalam Islam bahwa: janganlah berkhianat, jangan menyembunyikan harta rampasan perang sebelum dibagikan, jangan ingkar janji, jangan memutilasi tubuh musuh, jangan membunuh anak kecil, orang tua dan wanita, jangan merusak pohon kurma dan jangan pula menebangnya, jangan sembelih binatang kecuali untuk dimakan, jangan mengganggu orang yang berada dalam tempat ibadah mereka. Berangkatlah pasukan tersebut dengan memegang teguh amanat Abu Bakar As-Shiddiq setelah dua bulan melakukan ekspedisi di kawasan Syam maka pasukan tersebut kembali lagi ke Madinah dengan membawa keberhasilan menggertak pasukan Romawi sehingga Kaisar Romawi Heraclius berkata: sungguh tidak bisa dibenarkan karena kematian beberapa teman mereka menyerbu tanah kita.

3.      Pengumpulan Al-Quran dalam Satu Mushaf

Pada perang Yamamah yang terjadi pada tahun ke dua belas Hijriah terdapat tujuh puluh penghafal Alqur’an dari sahabat yang gugur sebagai syuhada. Maka dari itu, Umar bin Khattab sangat khawatir kalau peperangan di tempat-tempat lainnya akan membunuh banyak lagi penghafal. Sehingga Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq untuk mengumpulkan Alqur’an karena dikhawatirkan akan musnah.

Pada awalnya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq menolak usulan tersebut dengan alasan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. NAmun terus dibujuk oleh Umar bin Khattab hingga Allah SWT membuka hati sang khalifah untuk menerima usulan Umar bin Khattab tersebut. Khalifah Abu Bakar membentuk panitia pengumpulan Alqur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit sang juru tulis wahyu Rasulullah SAW.

4.      Pencapaian Abu Bakar as Shiddiq

Berikut ini mengenai peradaban yang berkembang pada masa pemerintahan Abu Bakar yang berlangsung selama dua tahun tiga bulan:

a.       Membudayakan musyawarah yang lebih demokratis dalam pemerintahan dan masyarakat.

b.      Menumbuhkan loyalitas umat islam dan tentara kepada pemerintah yang memberi dukungan atas semua kebijakan khalifah.

c.       Membudayakan musyawarah dalam menyikapi setiap masalah yang timbul.

d.      Membangun pemerintah yang tertib di pusat dan di daerah.

e.       Membangun milter yang disiplin dan tangguh di medan tempur.

f.        Menyusun mushaf al-Qur’an seperti yang dimiliki umat Islam sekarang.

g.      Menyejahterakan rakyat secara adil dengan membangun baitul mall serta memperbadayakan zakat, infaq, serta ghanimah dan jizyah.

Dalam pemerintahan Abu Bakar, ciri-ciri ekonominya adalah:

a.       Menerapkan praktek akad– akad perdagangan yang sesuai dengan prinsip syariah.

b.      Menegakan hukum dengan memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat.

c.       Tidak menjadikan ahli badar sebagai pejabat Negara, tidak mengistimewakan ahli badar dalam pembagian kekayaan Negara.

d.      Mengelolah barang tambang (rikaz) yang terdiri dari emas, perak, perunggu, besi, dan baja sehingga menjadi sumber pendapatan Negara. Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dengan Era Pemerintahan.

  1. Khalifah Umar Bin-Khatab ( 634-644 M )

Pengangkatan      Umar      bin      Khattab menjadi     khalifah     dilakukan     melalui penunjukkan oleh Abu Bakar.Ketika Abu Bakar sakit, sahabat berkumpul   di   sekitarnya. Abu Bakar bertanya kepada mereka: “Apakah kalian akan menerima orang yang saya akan calonkan sebagai pengganti saya?Saya bersumpah bahwa   saya   melakukan   yang   terbaik dalam   menentukan   hal   ini, dan   saya telah    memilih    Umar    ibn    Al-Khattab sebagai pengganti saya. Para sahabat menjawab: “Kami mendengarnya dan kami akan mentaatinya”.

1.      Pemerintahan Umar bin Khattab

Umar memerintah selama sepuluh tahun (634-644    M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia, agama   Nasrani bernama Abu Lu’lu’ah. Dia ditawan oleh tentara Islam di Nahawand, dan   kemudian menjadi hamba sahaya Mughirah ibnu Syu’bah.Umar bin Khattab telah   merobohkan kerajaan Persia dan melenyapkan kekuasaan mereka. Hal ini menyebabkan lapisan atas dari bangsa Persia beserta pendukung-pendukungnya       menaruh dendam terhadap Umar dan membunuhnya. Pembunuhan direncanakan   oleh tiga serangkai, yaitu:  Hurmuzan, Jufainah dan Abu Lu’luah.

2.      Dakwah Umar Melalui Penaklukan

Pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syiria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Secara administrasi     pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Mekkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah,   Kufah,   Palestina, dan Mesir.

Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Umar adalah :

a.       Pemberlakuan Ijtihad

b.      Menghapuskan zakat bagi para muallaf

c.       Menghapuskan hukum mut’ah

d.      Lahirnya ilmu Qira’at

e.       Penyebaran Ilmu Hadits

f.        Menempa mata uang dan

g.      Menciptakan tahun Hijriah

  1. Khalifah Usman Bin Affan ( 644-656 M )

Umar mengajukan enam orang sahabat terbaiknya yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Ibn Abi Waqqash, Zubair Ibn Awwam, dan Thalhah Ibn Ubaydillah. Ternyata kaum muslimin lebih memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah. Kaum muslimin melihat bahwa sifat baik dan kedekatan yang sangat baik dengan Rasulullah menjadi salah satu alasan yang menjadikan Utsman bin Affan menjadi khalifah. Kondisi pemerintahan Islam setelah wafatnya Umar bin Khattab banyak terjadi kekacauan. Utsman bin Affan diharapkan mampu untuk mengembalikan kejayaan Islam setelah banyaknya wilayah yang memberontak. Sikap dermawan dan belas kasih kepada rakyat kecil diharapkan mampu mengubah kondisi masyarakat Islam menjadi lebih sejahtera.

1.      Penyeragaman Mushaf Al-Qur’an

Mushaf yang telah dikompilasi pada zaman Abu Bakar r.a., setelah wafatnya, berpindah kepada Umar bin al Khattab ra., lalu berpindah lagi ke tangan putrinya, Hafshah. Kemudian, khalifah Usman meminta mushaf tersebut hingga dilakukan penyalinannya setelah di beberapa wilayah taklukan tampak terjadi perbedaan dalam membaca teks ayat-ayat al Qur‟an. Usman menugaskan empat orang sahabat besar untuk mengedit teksnya. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, Sabit bin al-Ash, Abdullah bin as-Zubair, dan Abdullah bin al-Harits bin Hisyam.

Setelah dilakukan penyalinan mushaf dengan dialek Quraisy, ia mengembalikan naskah aslinya kepada Hafshah, lalu naskah salinan dikirimkan ke beberapa wilayah yang telah dikuasai Islam. Selanjutnya, penyalinannya kembali dan pendistribusiannya dilakukan oleh para fuqaha dan para ulama. Adapun, naskah-naskah yang ada sebelumya, yang didalamnya terdapat perbedaan, Usman memerintahkan agar dibakar. Dengan demikian, mushaf yang telah disalin itu dinamakan Mushaf Utsmani, dinisbahkan kepada Usman bin Affan, sebagai penghormatan atas karya besarnya.

2.      Pendidikan Masa Utsman Bin Affan

Kholifah Usman sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an.

Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ustman adalah :

a.       Penaskahan Al-Qur’an

b.      Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

c.       Didirikannya masjid Al-Atiq di utara benteng Babylon

d.      Membangun Pengadilan

e.       Membentuk Angkatan Laut

f.        Membentuk Departemen

3.      Terbunuhnya Utsman bin Affan Pada Masa Kekhalifahan

Saidina Usman menjadi khalifah selepas Saidina Umar bin Khatab dibunuh pada tahun 644. Beliau memerintah selama dua belas tahun iaitu dari tahun 644 sehingga tahun 656. Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H dalam usia 82 tahun. Saidina Utsman wafat pada tahun 656 akibat dibunuh oleh pemberontak yang tidak puas hati dengan pemerintahannya. Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca al-Qur‟an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.

  1. Khalifah Ali Bin Abi Thalib ( 656-661 M )

Ali menghadapi pemberontakan dan melawan para pemberontak yang tidak lain adalah tokoh-tokoh Muslim di masanya, seperti Talhah, Zubayr dan ‘Aisyah di satu pihak, atau Mu‘awiyah dan kelompoknya seperti ‘Amr bin ‘As di pihak lain. Kekuasaan ‘Ali pun harus berakhir dengan tragedy pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh kelompok Khawarij yang merupakan sekelompok pasukan yang sempat setia kepadanya. ‘Ali memimpin sampai tahun 40 Hijriah setelah ia dibunuh oleh ‘Abd al-Rahman bin Muljam. Ia wafat pada usia 60 tahun dan memimpin selama 5 tahun kurang 3 bulan.

1.      Kebijakan Pemerintahan ‘Ali bin Abi Talib

a.       Memindahkan Ibukota.

Pada masa pemerintahan ‘Ali, ibukota pindah dari Madinah ke Kufah (Irak).Memang, para pendukung ‘Ali banyak di kawasan Irak dan ini membuatnya memindahkan pusat pemerintahan.

b.      Perang Jamal Pada masa ini, ‘Ali menghadapi pemberontakan dua sahabat senior, yaitu Talhah dan Zubayr. ‘A. Perang yang terjadi pada tahun 656 ini kemudian disebut dengan Perang Unta karena ‘Aisyah mengendarai unta dalam peperangan. Perang bisa saja tidak terjadi andai kedua pihak komitmen untuk berdamai, tetapi pasukan kedua belah pihak menghendaki peperangan terjadi. Hasilnya, ‘Ali memenangkan pertempuran, sedangkan Talhah dan Zubayr tewas terbunuh.

c.       Perang Shiffin Setelah Perang Unta selesai, peperangan pun akhirnya terjadi di Shiffin pada tahun 657. Perang ini merupakan perang yang menentukan dan berdampak luar terhadap kehidupan dan pemikiran kaum Muslim di masa seterusnya. Dalam perang ini, pihak Mu‘awiyah hampir saja kalah, dan atas dasar perkembangan ini, Muʿawiyah setelah mendengarkan saran dari Amr ibn al-‘As, memerintahkan tentaranya untuk meletakkan halaman-halaman Al-Quran pada tombak mereka dan meminta ʿAli untuk menyelesaikan perang sesuai dengan petunjuk Alquran. Karena melihat Alquran, tentara ‘Ali meletakkan lengannya, dan oleh sebagian pendukungnya ‘Ali diminta untuk menerima arbitrase (tahkim). Tetapi, sebagian pendukung ‘Ali tidak menghendaki adanya arbitrase tersebut, meskipun ‘Ali sebagai khalifah akhirnya memenuhi keinginan kelompok Mu‘awiyah dengan mengadakan arbitrase.

Dalam arbitrase, ‘Ali mengutus Abu Musa al-Asy‘ari, sedangkan pihak Mu‘awiyah mengutus ‘Amr bin al-‘As. Kedua utusan memiliki otoritas untuk mengambil keputusan kemudian berembug dan memutuskan untuk mencopot jabatan pimpinan masing-masing, dimana ‘Ali tidak lagi sebagai khalifah dan Mu‘awiyah tidak lagi sebagai gubernur. Keduanya sepakat untuk mengumumkan di depan publik. ‘Abu Musa sebagai senior diminta untuk mengumumkan keputusan dimana ia akhirnya mengumumkan bahwa ‘Ali dicopot sebagai khalifah, tetapi ‘Amr bin ‘As tidak mengumumkan pencopotan Mu‘awiyah, melainkan menetapkan Mu‘awiyah sebagai khalifah.

2.      Perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ali:

a.       Terciptanya ilmu bahasa/nahwu (Aqidah nahwiyah)

b.      Berkembangnya ilmu Khatt al-Qur’an

c.       Berkembangnya Sastra

 

5.      PROSES LAHIRNYA DAN FASE-FASE PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH

  1. Sejarah  Dinasti Bani Umayyah

Dinasti Umayyah  didirikan  oleh  Muawiyah  bin  Abu  Sufyan  bin Harb.  Nama Dinasti Umayyah  dinisbahkan  kepada  Umayyah  bin  Abd  Syams bin  Abdu  Manaf.  Silsilah keturunan Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf  nya. Muawiyah dipandang sebagai pembangun dinasti ini, oleh sebagian sejarawan dipandang negatif sebab keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di Shiffin.  Terlepas dari itu, dalam diri muawiyah terkumpul sifat-sifat sorang penguasa, politikus, dan administrator. Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya kemenangan diplomasi  dalam  peran  Shiffin  dan  terbunuhnya  Ali  bin  Abi Thalib, melainkan sejak semula Muawiyah memiliki “basis rasional” yang solid sebagai   landasan   pembangunan   masa   depan.   Selain   itu, ia   mendapatkan dukungan yang kuat  dari  Suriah  dan  keluarga  Bani  Umayyah,  ia  merupakan seorang administrator yang sangat   bijaksana   dalam menempatkan para pejabat-pejabatnya serta memiliki kemampuan yang menonjol sebagai negarawan sejati.

  1. Bani Umayyah dimasa Pra Islam

Di masa pra-Islam, sebagai suku Quraisy, Bani Umayyah dan Bani Hasyim selalu   bersaing untuk menduduki kursi pimpinan. Bani Umayyah lebih berperan dalam bidang pemerintahan dan perdagangan, dengan demikian mereka lebih banyak menguasai bidang   perekonomian di banding Bani Hasyim, sementara Bani Hasyim adalah   orang-orang   yang   berekonomi sederhana, akan tetapi kebanggaan Bani Hasyim adalah bahwa Rasul terakhir yang diutus Allah swt.  adalah dari keturunan mereka, yakni Muhammad bin Abdillah bin 'Abd al-Muththalib. Ketika agama Islam mulai berkembang dan mendapatkan pengikut, Bani Umayyah merasa bahwa kekuasaan dan perekonomiannya terancam, dengan demikian. Bani   Umayyah   menjadi   penentang utama terhadap perjuangan Muhammad SAW (Bani Hasyim).

 

  1. Kejayaan dan Keberhasilan Bani Umayyah

Paling utama  dapat  dilihat dari 2 aspek, yaitu: Wilayah kekuasaan dan Perpolitikan serta  Perkembangan Keilmuan, berikut diantaranya:

1.      Aspek Kekuasaan :

a.       Ekspansi (perluasan wilayah/daerah kekuasaan) secara besar-besaran. Daerah-daerah     itu   meliputi   Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut   Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.

b.      Mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.

c.       Menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang.   Pada   masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya.

d.      Abd al-Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam.  Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.

e.       Pembenahan-pembenahan  administrasi  pemerintahan  dan  memberlakukan  Bahasa Arab     sebagai     bahasa resmi     administrasi     pemerintahan     Islam.

f.        Membangun jalan jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan     daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan mesjid-mesjid yang megah.

2.      Pada aspek politik :

Bani Umayyah  menyusun  tata  pemerintahan  yang sama sekali baru untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi  negara  yang  lebih  teratur.

3.      Perkembangan Keilmuan. :

a.       Pada masa pemerintahan dinasti umayyah, kota Makkah dan Madinah menjadi tempat berkembangnya music, lagu dan puisi.  Sementara di Irak (Bashrah dan Kufah) berkembang menjadi pusat  aktivitas intelektual  di  dunia  Islam. Sedangkan di Marbad, kota satelit di   Damaskus, berkumpul para   pujangga, filsuf, ulama, dan cendikiawan lainnya.

b.      Seni dan Budaya pada masa bani Umayah ini berkembang seni Arsitektur   terutama setelah ditaklukkananya spanyol oleh Thariq bin Ziyat. Ekspresi seni ini diwujudkan pada bangunan-bangunan masjid yang didirikan mada masa ini. Arsitektur bangunannya memadukan antara budaya Islam dengan budaya sekitar. Bukti  perkembangan  arsitektur  pada  masa  ini  nampak  seperti  pada Kuba  batu  Masjidil  al-Aqsha  yang  dikenal  dengan  Dome  or  The  Rock  (Qubah Ash-Shakhra)  di  Yerusalem,  bangunan  Masjidil  Haram  dan  Masjid  Nabawi yang disempurnakan bangunannya pada masa Umar bin Abdul Aziz, menara-menara yang didirikan oleh al-Walid di Suria dan Hijaz, bangunan gereja yang diperbaiki  dan  diubah  fungsinya  olehal-Walid  menjadi  masjid,  serta  istana-istana kecil dan rumah-rumah peristirahatan pada khalifah dan anak-anaknya.

  1. Kemunduran Dinasti Bani Umayyah

Setelah  berkuasa  selama  90  tahun,  akhirnya  Dinasti  Bani  Umayyah  berakhir dengan   Berikut ini adalah beberapa faktor  yang dominan dalam fase kemunduran atau kehancuran dinasti Bani Umayyah, yaitu:

1.      Munculnya kelompok-kelompok yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan Bani Umayyah, seperti kelompok Khawarij, Syiah, dan kelompok muslim   non-Arab (mawali).

2.      Tidak adanya ketentuan yang  jelas  dan  tegas tentang sistem pergantian khalifah, ketiadaan ketentuan menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga khalifah.

3.      Ketidakmampuan dari para penguasa Bani Umayyah untuk menggalang persatuan dan kesatuan dari pertentangan yang semakin lama semakin meruncing antara etnis suku Arabiah Utara (Bani Qais) dengan suku Arabiyah Selatan  (Bani  Kalb),  yang  sudah  ada  sejak  sebelum  Islam.

4.      Sikap  hidup  yang bermewah-mewahan  dalam  lingkungan  keluarga  khalifah,  sehingga  mereka yang   memegang   kekhalifahan   berikutnya   tidak   mampu   memikul   beban kenegaraan  yang  berat; Terbunuhnya  Khalifah  Marwan  bin  Muhammad  oleh tentara  Abbasiyah  di  kampung  Busir  daerah  Bani  Suweif  sebagai  akhir  dari Dinasti   Bani   Umayyah   di   Damaskus.

5.      Munculnya   kekuatan   baru   yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas  bin Abdul Muthalib sebagai saingan Bani Umayyah.

 

KHALIFAH- KHALIFAH YANG TERKENAL DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN BANI UMAYAH

  1. Sekilas Bani Umayyah

Nama ”Bani Umayah” berasal dari nama ” Umayah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf”. Sepeninggal Ali itu sebenarnya masyarakat secara beramai-ramai membaiat Hasan, putra Ali, menjadi khalifah. Tetapi Hasan kurang berminat untuk menjadi khalifah. Karena itu setelah Hasan berkuasa beberapa bulan, dan Mu’awiyah meminta agar jabatan khalifah diberikan kepadanya, Hasan dengan memberikan beberapa persyaratan, dengan rela jabatan itu dilimpahkan kepada Mu’awiyah. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah amul jama’ah, atau tahun persatuan umat islam.

Peristiwa Amul Jama’ah yang terjadi pada tanggal 25 Rabiul Awwal 41 H/661 M, menjadi hitungan awal berdirinya Daulah Bani Umayyah. Sedangkan akhir Daulah ini ditandai dengan kekalahan khalifah Marwan bin Muhammad di Perang Zab pada bulan Jumadil Ula tahun 132 H/749 M. Dengan demikian, Daulah Bani Umayyah ini berlangsung selama 91 tahun. Pemerintah ini dikuasai oleh dua keluarga dan diperintah oleh 14 orang Khalifah. Dua keluarga tersebut adalah keluarga Abu Sufyan dan keluarga Bani Marwan. Menurut Ahmad Amin dalam bukunya Fajr Islam.

  1. Khalifah yang terkenal di masa Bani Umayyah

Dari 14 khalifah yang memerintah Bani Umayyah selama 92 tahun, ada 4 khalifah yang terkenal karena prestasinya dalam pemerintahannya masing-masing, di antaranya adalah Muawiyah Bin Abi Sufyan, Marwan Bin Hakam, Walid Bin Abdul Malik, dan Umar Bin Abdul Aziz.

  1. Muawiyah Bin Abu Sufyan

Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan terkenal dalam sejarah perkembangan Bani Umayyah I, Karena keberhasilan beliau pada saat memprolamirkan Bani Umayyah I tahun 40 h pada saat ali bin abi thalib masih memerintah sebagai khalifah yang terakhir Khulafaurrasyidin. Meskipun muawiyah memprolamirkan bani umayyah dengan carayang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, akan tetapi beliau mampumenerapkan beberapa kebijakan yang sangat mendukung perkembanagan Bani Umayyah I, mencapai masa perkembangan yang sangat pesat,kebijakan tersebut adalah :

a.       Membentuk departemen dan dutayang belum pernah dibentuk oleh khalifah sebelumnya, fungsi dari departemen ini adalah menyiapkan beberapa sahabat dan mengutus mereka keberbagai negara untuk memeperkenalkan islam

b.      Muawiyah juga membeli beberapa profesional administrasi keuangandan tata usaha dari daerah Byzantium

c.       Memperluas kekuasaan atau mengembangkan wilayah di 3 daerahyang sangat subur dan strategis yaitu Afrika Utara, India danByzantium

  1. Khalifah Marwan Bin Hakam.

Khalifah Marwan Bin Hakam adalah seorang yang bijaksana berpikiran tajam, fasih berbicara dan berani, beliau ahli pembacaan al-qur’an dan banyak meriwayatkan hadis dari para sahabat rasulullah terutama yang terkenal dari Umar Bin Khattab dan Usman Bin Affan.

       Beliau terkenal danberjasa dalam beberapa sektor :

a.       menertibkan alat-alat takaran dan timbanagan,

b.      menciptakan mata uang sebagai alat jual beli.

c.       memberantas para pemberontakdengan cara yang keras dan tegas.

  1. Khalifah Walid Bin Abdul Malik

Masa pemerintaha Walid Bin Abdul Malik khalifah ke-6 bani umayyah disebutkan dalam sejarah sebagai Bani Umayyah I pada saat itu masyarakat patuh dan cinta pada Khalifah Al-Walid. Keadaan pemerintahan yang sebaik itu, membuka kesempatan pada al-walid untuk melakukan perluasan wilayah ke daerah-daerah di Afrika dan Eropa Barat.

  1. Prestasi khalifah Umar Bin Abdul Aziz

 Khalifah Umar Bin Abdul Aziz adalah khalifah ke-8 dari pemeritahan bani umayyah i, memerintah hanya 3 tahun kurang lebih tahun 99-101 H. Akan tetapi masyarakat yang dipimpin mengalami peningkatan kualitas secara drastis teruatama dalam hal status ekonomi, kehidupan sosial sampai mencari warga masyarakat untuk menyalurkan zakat fitrah begitu sulit. Zakat kaum aghniya diserahkan kebaitul maal selanjutnya difungsikan sembagai pembangunan fisik dalam masyarakat seperti masjid, sekolah dan perpustakaan. khalifah Umar Bin Abdul Aziz dibandingkan dengan khalifah-khalifah lainya :

a.       Jabatan khalifah yang akan dipangkuanya ditawarkan lebih dahulu kepada rakyat, akan tetapi mayoritas masyarakat lebih memilih Umar Bin Abdul Aziz.

b.      Beliau lebih mementingkan agama daripada politik.

c.       Mementingkan persatuan umat islam dari pada golongan.

d.      Penyiaran islam dilakukan atau disiarkan dengan cara damai.

e.       Adil terhadap semua pihak.

f.        Sopan dan santun dalam bertutur.

g.      Mementingkan kebutuhan umum dari pada kebutuhan pribadi

  1. Kebijakan Dan Prestasi-Prestasi Bani Umayyah

Diantara kebijakan-kebijakan dan prestasi-prestasi penting pada masa daulah ini berkuasa adalah sebagai berikut:

1.      Memindah ibu kota dari Madinah ke Damaskus (Syiria)

Pemindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus. setidaknya ada  faktor yang menyebabkan ini :

a.        Madinah sebagai pusat pemerintahan khulafaurrasyidin sebelumnya, masih terdapat sisa-sisa kelompok yang antipati terhadapnya sehingga mengacam stabilitas pemerintahan

2.      Merubah Sistem Pemerintahan Menjadi Monarki Absolut

Pada masa-masa Awal Mu’awiyah menjadi penguasa kekuasaan masih berjalan secara demokratis, tetapi setelah berjalan dalam beberapa waktu, Mu’awiyah mengubah model pemerintahnya dengan model pemerintahan monarchiheredetis (kerajaan turun temurun). Ia telah mulai melakukan revolusi suksesi kekuasaan dengan logika yang belum pernah dilakukan oleh para khalifah sebelumnya. Abu Bakar terpilih dengan cara aklamasi, Umar, Ustman dan Ali juga demikian adanya.

Keempat Khalifah tersebut bukan atas dasar dinastian. Sejak Abu Bakar sampai Ali, suksesi kepemimpinan dilaksanakan dengan cara musyawarah untuk menentukan posisi puncak sebagai khalifah. Pada masa khalifah ar-rasyidun tradisi musyawarah benar-benar dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an. Menurut Taqiyuddin Bin Taimiyah, bagi seorang waliyul amri, syura merupakan sesuatu yang tidak bisa dinafikan, karena Allah telah Tidak ada lagi suksesi kepemimpinan berdasarkan asas musyawarah (syuro) dalam menentukan seorang pemimpin baru. Mu’awiyah telah merubah model kekuasaan dengan model kerajaan

Perubahan konsep suksesi kepemimpinan yang dilakukan oleh Mua’wiyah telah melahirkan penolakan yang kuat dari kubu-kubu yang tidak searah dengan kubu Mu’awiyah. Deklarasi pergantian kekuasaan kepada Yazid oleh Mu’awiyah, selain telah menyalahi kebiasaan kekuasaan para penguasa Arab, tetapi telah melahirkan kekecewaan dari musuh-musuh politik Mu’awiyah, sehingga menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat dan seringkali melahirkan konflik perang antar saudara, Husein bin Ali di Kufah tahun 680 M, Mukhtar di Kufah tahun 685 M, dan Abdullah bin Zubair di Makkah tahun 692 M. Khalifah Yazid melakukan perlawanan keras dengan pemberontak. Hal ini kemudian melahirkan tragedi-tragedi seperti tragedi meninggalnya Husein di Karbala, peristiwa Hurah dihalalkannya kehormatan Madinah Al-Munawwaroh dan diserangnya Ka’bah dengan Manjaniq.

3.      Penguatan Militer dan Kebijakan Ekspansi

Pada masa Bani Umayyah organisasi militer terdiri dari Angkatan Darat (al-Jund), Angkatan Laut (al-Bahriyah), dan Angkatan Kepolisisan (asy- Syurthah). Berbeda dengan masa Usman, yang bala tentara atasa dasar kesadaran sendiri, pada masa ini ada tekanan penguasa. Bahkan pada masa Abdul Malik bin Marwan diberlakukan Undang-Undang Wajib Militer (Nidzom at-Tajdid Al-Ijbari).

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel,  ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah. Disamping perluasan wilayah yang dilakukan, militer juga difungsikan oleh muawwiyah untuk menjadi tentara pelindung raja (Hijaban). Kebijakan ini dilakukan muawwiyah berkaca dari sejarah, agar terbunuhnya khalifah oleh para pemberontak tidak terulang sebagaimana 3 khulafaurrasyidin sebelumnya.

4.      Penataan Administrasi Negara

Saat Muawiyah menjabat kekhalifahan diantara langkah strategis yang dilakukan adalah peningkatan pengelolaan administrasi negara. Apa yang dilakukan Muawiyah tersebut kemudian terus disempurnakan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Hal-hal tersebut meliputi:

a.       Merancang Pola Pengiriman Surat (Post). Mu’awiyah yang mengawali kebijakan ini kemudian dimatangkan lagi pada masa Malik bin Marwan. Proyek al-Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga menjadi alat pengiriman yang baik pada waktu itu.

b.      Meresmikan Lambang Kerajaan. Sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin tidak pernah membuat lambang Negara baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya. Lambang itu menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.

c.       Membentuk Lembaga Pemerintahan, yaitu:

1. An-Nizam al-Siyasi : lembaga politik.

2. An-Nizam al-Mali : lembaga keuangan

3. An-Nizam al-Idari : lembaga tata usaha negara

4. An-Nizam al-Qada’i : lembaga kehakiman.

5. An-Nizam al-Harbi : lembaga ketentaraan.

6. Diwan al-Kitabah : lembaga sekretaris negara

d.      Membentuk semacam Dewan Sekretaris Negara (Diwan al-Kitabah) untuk untuk mengurus berbagai urusan pemerintahan, meliputi:

1. Katib al-Rasail : sekretaris administrasi.

2. Katib al-Kharraj : sekretaris keuangan.

3. Katib al-Jundi : sekretaris tentara.

4. Katib as-Syurthah : sekretaris kepolisian.

5. Katib al-Qadhi : sekretaris kehakiman.

6. Kemajuan di Bidang Arsitektur

 

 

 

 

 Semoga Bermanfaat yaa








Komentar

Postingan populer dari blog ini